Showing posts with label ExploreIndonesia. Show all posts
Showing posts with label ExploreIndonesia. Show all posts

Monday, May 28, 2018

5 Alasan Mengunjungi Gunung Ireng

Kebetulan lagi kangen sama Yogyakarta, saya mau berbagi alasan tempat untuk ngeliat sunrise di tempat ini. Seingat saya, saya ke sini dengan ‘mendadak’ tanpa rencana, tiba-tiba bilang ‘kuy besok sunrise!’ Beberapa hari sebelum wisuda bulan November hehe. Sepanjang tahun, kayak ini bangun terpagi dan pergi terpagi saya sama temen-temen. Kita janjian untuk otw sekitar jam 4 pagi, katanya sih biar bener-bener ngeliat sunrise. Malang nggak dapet ditolak, kami malah disambut rintikan hujan pagi-pagi waktu menuju lokasi hadeh. Walaupun begitu, tempat ini tetap juara untuk dikunjungi. Kalau kamu lagi liburan di Yogya, atau merantau ke Yogya, saya merekomendasikan kamu setidaknya sekali lah untuk menikmati sunrise di sini, di Gunung Ireng.

Oke, namanya emang Gunung Ireng, tapi nggak setinggi gunung kok, ini cuman gunung purba gitu. Namun, lokasinya agak tinggi, dan pas banget buat menikmati suasan pagi yang damai, nyaman, nan syahdu. Ini lima alasan kamu harus mengunjungi Gunung Ireng!

Friday, May 25, 2018

Liburan di Bali: 10 Tempat Rekomendasi di Ubud

Bali memang nggak ada habisnya kalau mau dijadiin tempat buat berlibur, termasuk bagi saya sendiri yang asli dari Bali. Terkadang memang benar ya karena menganggap “dekat” jadi kapan saja bisa ke sana. Tapi kenyataanya jujur aja, saya belum pernah benar-benar jalan-jalan dan menikmati suasana Ubud sepenuhnya. Dulu pernah waktu SMA, sama teman-teman sepedaan pagi-pagi di sekitaran Ubud, kemudian berenang. Lalu pulang deh.  Setelah bertekad untuk berlibur di Ubud bersama sepupu saya, terlaksanalah 2D1N di Ubud kali ini. Yeay!

Jalan-Jalan ke Ubud

Sunday, February 25, 2018

Kupang: Punya Waktu Sehari Saja Bisa Kemana?

Masih inget dulu pertama kali ke Kupang pertengahan tahun 2016, untuk transit sementara sebelum lanjut ke Rote untuk KKN. Terus balik lagi ke Kupang (pastinya) setelah selesai KKN, cuman sempet ngeliat Mall di sana yang kebetulan cukup dekat dari salah satu alumni UGM yang menjemput anak-anak KKN. Satu setengah tahun berlalu (yah makin tua deh), akhirnya bisa mendarat lagi di Bandara Udara El-Tari. Dulu waktu masih nunggu penerbangan ke Rote, jalan kaki keluar bandara terus beli mie ayam sama es serut yang jualan di dekat jalan utama setelah keluar dari bandara (sampai sekarang pun masih ada, duh kangen!). Tengok kanan kiri, nggak ada rumah sama sekali! Cuman ya bandara, terus tiang-tiang lampu gitu. Kalau sekarang, kebetulan sedang musim hujan, jadi nggak begitu gersang dan kali ini sudah ada yang langsung menjemput!

Tuesday, October 17, 2017

Gumuk Pasir: Sensasi Sand-Boarding ft Sunset

Weekend ini kemana nih? Kadang mager juga nggak sih kalau mau jalan-jalan tapi agak jauh. Kalau main ke Jogja, enaknya main kemana? Pertanyaan yang wajib ditanyain mah ini. Jujur, hampir setiap weekend saya menyempatkan untuk main. Entah main kemana yang jauh, yang deket, di gunung, atau di pantai. Yang penting mah main, nggak di kosan. Contohnya aja pantai yang terbilang cukup dekat dari Jogja, ya Pantai Parangtritis atau Pantai Parangkusumo yang ada di Bantul. Kalau main ke pantainya doang tapi nggak nyobain gumuk pasirnya, keknya ada yang kurang deh.

Sebelumnya sih pernah main ke gumuk pasir, tapi cuman buat foto-foto doang waktu itu. Mungkin di bulan Desember tahun 2013, cuman nemenin adik karena pas di Jogja. Tiga setengah tahun berselang, akhirnya main lagi ke gumuk pasir tapi nyoba sensasi yang baru nih. Main sand boarding! Yeay! Sebenernya sih main sand boarding sudah masuk ke dalam bucket-list sebelum meninggalkan Jogja, kalau udah wisuda. Untungnya bisa terpenuhi!

Baru sampai dan siap-siap meluncur

Sunday, October 8, 2017

Maradapan: Kami adalah Tamu Terjauh yang Berkunjung ke Sana!

Lanjut lagi dengan cerita perjalanan ENJ. Sesampainya di sana, mereka sangat menyambut kami dengan hangat dan ramah. Taukah kalian, ternyata kami adalah tamu terjauh yang pernah mengunjungi pulau ini. Waduh. Begitulah yang disampaikan perangkat desa di sana. Mungkin bupati belum pernah ke pulau ini, mungkin. Baiklah, mari mulai mengulas Pulau Maradapan, uhuy. 

Gimana sih rumah di sana?

Sebagaian besar rumah di sini, rumah panggung, jadi dibawahnya masih ada sela cukup banyak, terus ada tangganya untuk menuju rumah. Yang bikin agak serem menurutku adalah ternyata tiang-tiangnya dipasang gitu aja, bahkan ada yang ditaruh diatas batu gitu, kalau ada yang tingginya beda-beda tiangnya. Herannya juga, kok bisa tetep kokoh ya. Seperti yang udah saya sampaikan sebelumnya kalau Pulau Maradapan ini bentukannya bukit, jadi susah banget nyari daerah yang datar. Nah, untuk beberapa orang yang lebih berpunya, rumahnya udah kayak rumah pada umumnya yang disemen, dan bukan jenis rumah panggung. Termasuk rumah yang kami tinggali selama di Pulau Maradapan. Ada dua rumah yang menjadi tempat kami tinggal, satu rumah khusus yang perempuan dan satu rumah khusus untuk yang laki-laki.

Rumah panggung ada di kanan, yang kiri udah ada yang kayak rumah pada umumnya

Wednesday, October 4, 2017

Maradapan: Penuhi Tantangan Benteng Takeshi untuk Capai Daratan

Pernah nggak denger Pulau Maradapan? Atau sekarang katanya lebih dikenal secara administratifnya Pulau Kadapangan?

Melanjutkan cerita perjalanan ENJ yang telah saya tulis sebelumnya mengenai behind the scene’-nya. Oke, mungkin sebelumnya ada yang nanya, “kok bisa sih nemu tuh pulau?” Sebenarnya awalnya pun, kami mencetuskan lokasi dari tim ENJ UGM itu di Maradapan, karena berdasarkan jalur yang telah disediakan, nama pulau ini cukup mencuri perhatian. Enggak tau kalau perhatian dia ke kamu gimana ya..*plak*

Jalur yang disediakan sesuai dengan kapal-kapal yang memang disediakan dari pusat gitu, jadi kami tinggal memilih pulau mana yang dilalui kapal tersebut. Dikarenakan posisi kami di Jawa, jadi tidak begitu banyak pilihan yang bisa dipilih kalau ingin tetap berangkat dari salah satu pelabuhan yang ada di Jawa. Pilihan yang sangat memungkinkan adalah yang berangkat dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Terpilihlah jalur Kapal Sabuk Nusantara 57, yang ternyata menuju Kalimantan Selatan. Nah, lumayan kan bisa mampir provinsi lain di pulau lain ‘kan.

Ketika awal-awal memutuskan memilih Pulau Maradapan ini sih, jujur saja, kami agak gambling.  Coba aja deh searching di google. Bahkan, mesin pencari nomor satu di dunia ini, hanya memiliki sedikit sekali tautan mengenai pulau ini, yang lebih herannya lagi, di google maps, ada tulisan Pulau Maradapan tapi nggak ada pulaunya coba. Piye coba? Sepertinya memang kami perlu memperbaiki titik lokasi Pulau Maradapan. Setelah kami tau nama aslinya, ternyata di google maps mengenalnya sebagai Pulau Kadapangan.

Keywords yang sering muncul begitu mengetik “Maradapan” adalah Air Asia, jenasah, dan evakuasi. Ternyata ada beberapa jenasah korban Air Asia yang ditemukan di sekitaran pulau ini. Awalnya hanya mendapat informasi itu saja, ditambah informasi administratif lain, seperti luas pulau, jumlah KK, potensi alam, yang sebenarnya informasinya juga masih minim.

Monday, October 2, 2017

Behind the scene ENJ: Lari, Mundur, PHP

One word for this journey. Unexpected!

Setelah saya cukup lama disibukkan dengan tugas wajib sebagai mahasiswa tingkat akhir, skripsi, akhirnya saya bisa bernafas lega setidaknya untuk beberapa waktu ke depan. Di bulan yang sama di saat saya menyelesaikan skripsi, saya berkesempatan untuk menjadi bagian dari peserta Ekspedisi Nusantara Jaya. Program ekspedisi yang diinisiasi oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman. Seperti biasa pula kalau nggak jadi sekretaris, ya jadi bendahara. Setelah berdinamika sekitar dua bulan sebelum keberangkatan, ada-ada aja cerita yang lahir dari perjalanan ini.

Mundur berangkat sampai 2 kali (nyaris 3 kali)

Awalnya kami berencana berangkat 11 Agustus 2017 dari Jogja, namun dibatalkan karena ternyata jadwal kapalnya nggak ada sekitaran tanggal itu. Berencana mau berangkat tanggal 20an Agustus 2017 pun batal juga. Oh iya, padahal surat izin dari kampus ini udah keluar lho, akhirnya mundur juga. So, kami undur sesuai dengan jadwal yang ada katanya antara 1-2 September 2017. Baiklah. Saya bias bernafas lega untuk menyelesaikan revisi dan urusan akademik terlebih dahulu. Terus bisa hadir di wisuda teman-teman juga.

Datanglah hari H, 31 Agustus 2017, hampir saja sebagian dari kami ketinggalan kereta. Iya, ketinggalan. Awalnya pun aku hampir salah melihat jam keberangkatan, untung aja datangnya nggak mepet-mepet banget. Baru aja move ke kereta, bikin video bentar, masuk gerbong, nggak nyampe 2 menit, eh keretanya jalan. Kami hanya bisa menatap satu sama lain, tiket kereta dipegang sama yang di belakang, yang entah udah naik kereta atau belum. FYI, gerbong kami itu paling belakang banget! Aku kira itu keretanya bercandaan berangkat, eh beneran. Terus bergerak perlahan-lahan, sampai ngelewatin pintu masuk. OMG! Sumpah, itu pasrah sepasrah-pasrahnya kalau harus turun di Klaten dulu buat nunggu mereka. Ternyata, jeng..jeng..jeng..mereka ternyata udah naik ke kereta. I can’t imagine, how can they run to catch the rain with a lot of boxes behind?

Wednesday, June 28, 2017

Bali Selatan: Surganya Secret Beach

Setelah cukup lama nggak posting, karena beberapa kesibukan dan juga kemageran yang telah saya alami, akhirnya saya kembali memposting tentang pantai-pantai yahud. Applause dulu hahaa. Sebagai orang yang lahir dan besar di Bali, tentunya pantai sudah menjadi bagian dalam hidup saya. Apalagi kampung asli Ayah saya ada di dekat pantai, kampung asli Ibu saya lebih dekat lagi dengan pantai, tinggal keluar rumah aja udah kelihatan. Saya pun sejak kecil sudah dibesarkan di daerah Bali Selatan, yang jauh dari kedua kampung orangtua saya sendiri.

Semenjak tinggal di Yogya untuk kuliah, tiap pulang pasti menyempatkan untuk main ke pantai-pantai baru yang ada di Bali Selatan. Padahal pantainya sih udah ada dari sejak lama, cuma karena akses menuju lokasi sudah dipermudah, membuat pantai tersebut baru-baru boomingnya. Kalau diingat-ingat lagi, dalam tiga tahun terakhir, perkembangan akses menuju pantai-pantai tersembunyi di Bali Selatan semakin mudah aksesnya. Contohnya saja Pantai Pandawa, yang kini menjadi pantai yang ‘kudu-wajib-dikunjungi’ kalau ke Nusa Dua (daerah Bali Selatan). Oh iya, karakteristik pantai di Bali Selatan itu sebagian besar harus melewati bukit kapur dan tebing-tebing tinggi. Maka, jangan heran kalau mau main ke pantai-pantai rahasia alias secret beach di sini perlu usaha.



Kali ini saya mau bagi-bagi informasi mengenai beberapa Secret Beach yang menurut saya sih sangat rekomen untuk kamu datengi kalau lagi main ke Bali. Apalagi pengennya yang nggak terlalu jauh dari Kuta atau Denpasar tapi tetap eksotis dan ‘instagramable’ kalau pengen diposting hehe.

Wednesday, November 30, 2016

Belitung: Keindahan Belitung Utara

Setelah postingan sebelumnya main ke beberapa tempat yang ada di berbagai lokasi di Belitung, sekarang saya akan membahas pantai-pantai cantik di daerah Belitung Utara. Kalau dari pusat kota, mungkin sekitar 45 menit hingga 1 jam mencapai pantai. Rasanya ngelihat pantai di sini, udah kayak candu, pengen dilihat terus-menerus. Pasirnya putih, bersih, ditambah lagi puluhan bebatuan yang berukuran dari kecil hingga besar menghiasi. Selain itu, wisata alam unggulan di belitung rata-rata berada di Belitung Utara ini, seperti Pulau Lengkuas, Pantai Tanjung Tinggi, Pantai Tanjung Kelayang, dan lain-lain. So, kamu harus coba buat sailing trip ke Pulau Lengkuas dan beberapa pulau kecil lainnya.

1. Pantai Tanjung Kelayang
Pantai ini menjadi salah satu starting point untuk memulai sailing trip melihat beberapa pulau-pulau. Seperti pada umumnya, karakteristik pantai di Belitung yang dihiasi hamparan batuan granit yang unik. Entah kenapa saya menjadi senang melakukan sailing trip, semenjak pertama kali sailing trip di Labuan Bajo awal tahun 2015 lalu. Airnya bening, saya bisa melihat dasar dan bentukan karang yang ada di dasar. Biaya sewa perahu sekitar Rp 400.000,- kebetulan saya sudah termasuk alat snorkel, kapasitas juga bisa sampai 10 orang. Nah dari sini udah terlihat salah satu icon dari tempat wisata ini. Apalagi kalau bukan tumpukan batu secara alami yang menyerupai kepala burung, yakni Batu Kelayang yang menjadi maskot dari Sail Wakatobi - Belitung 2011 lalu. 

Batu Kelayang

Friday, November 11, 2016

Belitong: Laskar Pelangi, Ahok dan Balitung

Halo!
Niat untuk menulis di blog kembali muncul, setelah seminggu kemarin sudah melakukan ritual (re: travelling) untuk penyegaran mata, pikiran, otak dan (mungkin) hati. Terakhir menginjakkan kaki di Pulau Sumatera, tahun 2014 lalu saat ke Palembang, masih penasaran sama cantiknya daerah-daerah di Sumatera. Sebenernya niat buat ke Belitung sudah ada sejak awal tahun ini, tapi ya terpentok waktu dan yang diajak, jadinya baru terlaksana di akhir Oktober kemarin. 

Nyaris terulang...
Tragedi ketinggalan pesawat kembali terjadi pada saya. Padahal pagi-pagi di hari saya akan berangkat, sudah saya cek jadwal keberangkatan. Sayangnya salah lihat jam. Saking seringnya dan nyamannya mengambil penerbangan terakhir entah saat pulang ke Bali, atau ke Jakarta, otak saya sudah tersetting kalau penerbangannya termalam. So, yang saya lihat jam 20.40, ternyata itu jam saya tiba di Jakarta. Mbyar! Sedangkan jam 18.00 masih siap-siap di kos dan belum mandi. Well, kena nasehat dari Ayah, dan memang ini pure kesalahan saya nggak ngecek dengan benar. Untungnya tiketnya masih bisa di reschedule. Fiuh. Belum selesai, nyampai bandara baru sadar kalau laptop tertinggal. Oh damn! Padahal rencananya mau nyicil beberapa kerjaan. Beruntung ada teman saya yang super baik mau membawakan beberapa barang yang tertinggal di kosan.

Friday, May 27, 2016

Lembongan Island: Mission 2D1N! (Alternatif buat liburan singkat)

Setelah dipostingan sebelumnya yang nyeritain bagaimana takdir yang akhirnya membuat perjalanan saya begitu mulus dan disponsori teman-teman ayah saya, sekarang saya bakalan sharing perjalanan singkat saya di Lembongan. Kenapa harus liburan ke Lembongan? Alasan yang paling mendasar buat saya sih, pas buat ngisi waktu liburan yang cuman sehari atau dua hari doang. Sudah dijamin kepuasannya deh! Pulau Lembongan dan Ceningan ini tergolong kecil, kebanyak lokasi wisata juga berhubungan pantai. Nilai plusnya adalah buat kamu yang males kena macet kalau main ke pantai, Lembongan menjadi pilihan terbaik kamu deh. Di sini ada sih mobil tapi dikit banget, paling mobil secara pick-up yang sudah dimodifikasi gitu buat ngangkut penumpang dari pelabuhan ke lokasi agensi penyebrangannya gitu.

Lalu kapan waktu yang tepat?
Kapan saja bisa sih menurutku, weekend pun sebenarnya nggak begitu jadi masalah. Cuman kalau mau dapat penyebrangan pagi, ada baiknya kamu booking di awal. Soalnya kalau weekend, penyebrangan pagi bakalan full banget sama halnya dengan penyebrangan balik ke Sanur bakalan full di sore hari. Kalau kamu mau pergi seharian, sebenernya udah cukup kok kalau nyebrang ke Lembongannya pagi, terus balik ke Sanur dengan kapal penyebrangan tersore, sekitar jam 16.30.

Kemana aja enaknya nih?
Semakin berkembanganya teknologi, tentunya sangat mudah untuk searching tempat-tempat wisata yang asik untuk dikunjungi. Sehari sebelum ke Lembongan, saya dan sepupu saya sudah sempat kepo-kepo tempat-tempat yang wajib dikunjungin kalau lagi lancong ke Lembongan. Selama satu setengah hari di Lembongan, lumayan banyak tempat yang sempat saya kunjungi.

Wednesday, May 25, 2016

Lembongan Island: Sahabat Lama Bertemu Kembali

Akhirnya salah satu impian saya terwujud juga, ada WiFi di kosan haha. Sederhana banget ya? Saya sih orang paling mager kalau udah urusan masang WiFi makanya kagak pernah kesampaian mimpi sederhana ini. Untunglah tetangga kosan saya nan baik menyiapkan segalanya dan saya hanya tinggal bayar dan menikmati saja *sujud syukur*. Oke berkat WiFi yang sudekat ini, saya bakalan bagi-bagi cerita perjalanan singkat saya waktu mudik alias pulang kampung ke Bali.

Setelah tragedi di Singapura yang meremukan hati saya itu terlalui, hasrat saya untuk mudik sangat tinggi. Mungkin demandnya mencapai 1000% haha. Namun sayang, keinginan saya untuk pulang ke Bali gagal sebnayak dua kali di Bulan April. Huft. Akhirnya, Tuhan memberikan pencerahan bagi hamba-hambanya yang sudah kangen rumah dengan kehadiran liburan panjang di awal Bulan Mei. Cihuy! Saya pun menjadi salah satu yang memanfaatkan dengan baik moment yang tepat ini udah merefreshing kembali pikiran dan jiwa saya dengan jalan-jalan. 

Orang bilang sih, kalau main ke Bali itu semuanya ada. Bali itu tempat pas buat menghilangkan penat. Bali itu emang pas dijuluki Pulau Surga. Setelah status saya berubah menjadi perantau, yang artinya menjadi Bang Toyib sementara karena jarang pulang ke rumah di Bali, saya begitu menyadari nyamannya berlibur di Bali. Baru kali ini saya merasa benar-benar menjadi turis di kampung halaman sendiri haha. Kebetulan semester ini jalan-jalan dalam negerinya belum dimulai, saya memutuskan untuk memulainya dengan liburan di Pulau Lembongan dan Ceningan, Klungkung.

Sunday, July 27, 2014

Kepentok Keindahan Manado

Berhubung ini lagi masa holiday, makanya bisa posting lagi nih. Sekarang mau posting waktu jalan-jalan cumut ke salah satu provinsi yang ada di Sulawesi. Pertama kalinya menginjakan kaki di tanah Celebes ini, langsung disambut sama petugas bandara yang masih muda dan kinclong alias enak banget buat dipandangin. Ini penerbangan terlalu yang pernah aku rasain. TIGA JAM DUA PULUH MENIT. Alhasil aku berhasil menyelesaikan dua film trilogi dari Merah Putih. Itu lo yang pemainnya Donny Alamsyah, pas banget waktu itu dia berperan sebagai pejuang yang berasal dari Manado, kota yang bakalan aku kunjungin sekarang. 

Cuaca cerah, langit biru, langsung disuguhi pemandangan hamparan bukit yang mengelilingi sekitar bandara. Oh ya, suhunya juga normal-normal aja, nggak kayak di Palembang yang cetar membahana. Berhubung di sana ada kenalan papa, jadi semua langsung diurus sama temennya papa itu. Waktu itu dihandle sama seorang pegawai gapura yang cakep, putih, enak dipandang, badannya oke banget. Sambil nungguin bagasi, yah lumayan juga mandangin dia doang, haha. Sampai-sampai aku kirim snapchat foto di ke storyku haha. Setelah semua bagasi diambil, tralaaa-trililiii sama temen papa, langsung lanjut ke hotel yang sudah dipesen.

Tuesday, July 15, 2014

Kalibiru, Kulonprogo!

Oke, sekarang aku mau ngebahas perjalanan singkat (ceilah) waktu hari dua hari yang lalu sama temen SMAku, Trisna Yuanda ke tempat yang sebenernya udah pengen banget aku kunjungin dari dua minggu lalu, tapi baru kesampaian hari Minggu, 12 Juli 2014. Awalnya sih mau ke sana sama temen kampus, tapi mumpung temenku yang satu ini ada di Jogjakarta dan waktu itu dia mau balik ke Bali sorenya jadinya pengenlah ngajak jalan dulu bentar. 

Pertamanya sih, nggak begitu niat ke sana soalnya hari itu gerimis, alhasil pasti tingkat ke-mager-an akan meningkat 300% dari biasanya dan pengen tidur mulu. Tapi, berhubung ada kesempatan emas buat jalan dan ada temennya, makanya aku mengalahkan kemageran itu. Jam 13.24, aku otw jemput TY di daerah monjali. Sayangnya kena macet dikit di Jalan Magelang, soalnya ada acara lelang mobil dari berniaga.com dan bertempat di TVRI Jogjakarta. Waktu berangkat sih cuman mendung, ngeliat ke sisi Kulon (Barat) cukup cerah sih. Berharapnya kagak hujanlah biar gak rugi ke sana.Sekitar sejam lima belas menit, kita sampai di Desa Wisata Kalibiru, Kulon Progo dengan bermodalkan Google Maps yang luar biasa (terima kasih Om Google :3 )